Cinta terbesar dan cinta hakiki bagi orang yang beriman ialah cinta kepada Allah. Sehingga cinta kepada Allah-lah yang seharusnya menjadi motivator terbesar dan tidak terbatas

Selasa, 01 Juli 2014

KEBERKAHAN MAKAN SAHUR

KEBERKAHAN MAKAN SAHUROlehDr. Nashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i
DEFINISI(السَّحُوْرُ), adalah dengan memfathahkan siin yaitu untuk sesuatu yang dipakai bersahur
 [1] berupa suatu makanan atau minuman, dan dengan mendhammahkan, yaitu sebagai masdar (asal kata) dan untuk kata kerjanya pun seperti itu pula.
[2]Ibnul Atsir berkata, “Yang lebih banyak diriwayatkan adalah dengan menfathahkan, ada yang berpendapat: ‘Yang benar adalah dengan didhummahkan karena dengan menfathahkan adalah untuk makanan, keberkahan, ganjaran dan balasan perbuatan, bukan pada makanan.’”
[3]WAKTUNYADinamakan Sahur, karena dilaksanakan pada waktu Sahur, sedang as-Sahir adalah, akhir dari malam sebelum Shubuh, ada yang berkata, ia dari sepertiga malam akhir hingga terbit fajar.
[4] maksudnya adalah bahwa akhir dari waktu sahur bagi seorang yang berpuasa adalah terbitnya fajar.Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ“...Dan makan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam,
[5] yaitu fajar...” [Al-Baqarah: 187]Disunnahkan untuk mengakhirkan Sahur jika tidak dikhawatirkan terbitnya fajar, riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Anas Radhiyallahu anhu dari Zaid bin Harits Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Kita bersahur bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu kita mendirikan shalat.” Saya berkata: “Berapa lamakah antara keduanya?” Ia berkata: “Lima puluh ayat.”
[6]Imam al-Baghawi berkata: “Para ulama menganjurkan mengakhirkan makan sahur.” [7]HUKUMNYASahur hukumnya adalah mustahab (disunnahkan) bagi orang yang berpuasa karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:"تَسَحَّرُوْا! فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةٌ."“Bersahurlah kalian karena dalam bersahur tersebut terdapat keberkahan.”
 [8]Dan dalam riwayat yang lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "فَصْلٌ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ، أَكْلَةُ السَّحَرِ."”Pembeda antara puasa kita dengan puasanya ahlul Kitab adalah makan Sahur.”
[9]Maka, dengan makan Sahur berarti telah menyelisihi ahlul Kitab.Imam an-Nawawi berkata, “Artinya, pemisah dan pembeda antara puasa kita dengan puasa mereka adalah sahur, karena mereka tidak bersahur sedang kita dianjurkan untuk bersahur.”
 [10]Makan Sahur dapat berupa sesuatu yang paling sedikit untuk disantap oleh seseorang, baik berupa makanan maupun minuman.
[11]KEUTAMAAN SAHUR DAN KEBERKAHANNYADiriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "تَسَحَّرُوْا! فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةٌ."“Bersahurlah, karena pada makan Sahur itu ada keberkahan.”
 [12]Dan diriwayatkan dari al-‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu anhu
[13] , ia berkata: “Aku telah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil seseorang untuk makan Sahur seraya bersabda:"هَلُمَّ إِلَى الْغَدَاءِ الْمُبَارَكِ."“Kemarilah untuk menyantap makanan yang diberkati.”
[14]Makan Sahur memiliki keberkahan dunia dan akhirat, Imam an-Nawawi rahimahullah berkata saat menjelaskan keberkahan Sahur, “Keberkahan yang terdapat pada makan Sahur sangatlah jelas sekali, karena ia menguatkan untuk berpuasa dan membuatnya bergairah untuknya serta mendapatkan keinginan untuk menambah puasa oleh karena ringannya kesulitan padanya bagi orang yang bersahur.” Dikatakan: “Sesungguhnya ia mengandung terjaga dari tidur, dzikir dan do’a pada saat itu, dimana waktu tersebut adalah waktu turunnya Malaikat, penerimaan do’a dan istighfar, dan kemungkinan ia mengambil wudhu’ lalu shalat atau terus melanjutkan terjaga untuk dzikir, do’a, shalat atau mempersiapkan diri untuk shalat hingga terbit Fajar.”
[15]Yang benar, bahwa keberkahan meliputi semua itu dan hal-hal lain dari manfaat-manfaat Sahur, baik duniawi maupun ukhrawi, dan bahwa makan Sahur mencakup makanan dan minuman, sedangkan kata kerjanya adalah التَّسَحُّرُ.Dalam kitab Fat-hul Baari, Ibnu Hajjar berkata: “(Pendapat) yang terbaik adalah, bahwa keberkahan dalam makan Sahur dapat diperoleh dari banyak segi, yaitu mengikuti Sunnah dan menyalahi ahlul Kitab, taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan beribadah, menambah semangat beramal dan mencegah akhlak yang buruk yang diakibatkan oleh kelaparan, menjadi sebab bersedekah kepada siapa yang meminta saat itu atau berkumpul bersama dengannya untuk makan, membuatnya berdzikir, berdo’a pada waktu-waktu dikabulkannya do’a, memperbaiki niat puasa bagi mereka yang melalaikannya sebelum tidur, Ibnu Daqiqil ‘Ied [16] berkata, ‘Keberkahan ini dapat juga berlaku terhadap hal-hal ukhrawi karena dengan menegakkan Sunnah, maka akan diganjar dan bertambahnya Sunnah (yang dilakukan), begitu pula bisa saja berlaku terhadap hal-hal duniawi, seperti kekuatan tubuh untuk berpuasa dan juga memudahkan dirinya tanpa ada bahaya bagi orang yang melaku-kan puasa.’”
 [17]Di antara keutamaan-keutamaan yang ditambah bagi makan Sahur adalah Allah Seubhanahu wa Ta’ala dan Malaikat-Nya akan bershalawat bagi orang-orang yang makan Sahur, tidak dipungkiri bahwa itu adalah keutamaan yang besar. Abu Said al-Khudri Radhiyallahu anhu telah meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:"السَّحُوْرُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلاَ تَدْعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يُجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحَّرِيْنَ."“Makan Sahur adalah keberkahan, maka janganlah kalian meninggalkannya, walaupun hanya berupa seteguk air, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Malaikat-Nya bershalawat bagi orang-orang yang bersahur.”
[18]Maka seyogyanyalah bagi seorang Muslim mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perbuatannya pada masalah ini, hingga memperoleh keber-kahannya dan keutamaan-keutamaannya serta manfaat dunia dan akhirat.[Disalin dari buku At Tabaruk Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu, Judul dalam Bahasa Indonesia Amalan Dan Waktu Yang Diberkahi, Penulis Dr. Nashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]_______Footnote[1]. Ash-Shihah (II/679) oleh al-Jauhari, al-Qamuus al-Muhiith (II/528) disusun oleh az-Zawi.[2]. An-Nihaayah (II/347) oleh Ibnul Atsir.[3]. Ibid, II/347.[4]. Lisaanul ‘Arab (IV/350), dengan sedikit perubahan.[5]. Yaitu gelapnya malam dan terangnya siang, seperti yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ‘Adiy bin Hatim Radhiyallahu anhu, lihat Shahih al-Bukhari (II/231) Kitaabush Shaum bab Qaulullaahu Ta’aalaa: وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا....[6]. Shahih al-Bukhari (II/771) Kitaabush Shaum bab Qadru Kam bainas Suhuur wa Shallatul Fajr dan Shahih Muslim (II/771).[7]. Syarhus Sunnah (VI/253) oleh al-Baghawi. [8]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya (II/232) Kitaabush Shaum bab Barakatus Suhuur min Ghairi Iijaab liannan Nabi j wa Ash-haabuhu Waashalu wa lam Yudzkaris Suhuur juga Muslim dalam Shahihnya (II/770) Kitaabush Shiyaam bab Fadhlus Suhuur, dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu dan dalam Shahih Ibni Khuzaimah (III/213).[9]. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (II/771) kitab ash-Shiyaam bab Fadhlus Suhuur dari ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu anhu.[10]. Syarhun Nawawi li Shahiihi Muslim (VII/207).[11]. Lihat Fat-hul Baari (IV/140) oleh Ibnu Hajjar.[12]. Telah diriwayatkan dalam ash-Shahihain.[13]. Beliau adalah al-‘Irbadh bin Sariyah as-Sulami atau Najih, beliau termasuk dari ahli fiqh dan tinggal di Himsh -wilayah Syam-, wafat pada tahun 75 H, lihat Asaadul Ghaabah (III/518), al-Ishaabah (II/266) dan Tahdziibut Tahdziib (VII/174). [14]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya (II/758) Kitaabush Shiyaam bab Man Sammas Sahuural Ghadaa’ dan an-Nasa-i (IV/126) Kitaabush Shiyaam bab ad-Da’wah ilas Sahuur, Imam Ahmad dalam Musnadnya (IV/126), Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya (III/214) Kitaabush Shiyaam bab Dziktud Dallilin Naas Sahuur Qad Yaqa’a ‘alaihi Ismul Ghadaa’, Ibnu Hibban dalam Shahihnya (V/194) disusun oleh al-Farisi, al-Albani berkata dalam Misykatul Mashabiih (I/622), “Sanadnya hasan.” [15]. Syarhun Nawawi li Shahiihi Muslim (VII/206), dengan perubahan.[16]. Beliau Muhammad bin ‘Ali bin Wahb al-Qusyairi al-Manfaluthi Taqiyuddin Abul Fath, imam, faqih, mujtahid, hafizh, muhaddits, menulis banyak karangan, dikenal dengan nama Ibnu Daqiq al-‘Ied, beliau seorang yang cerdas di zamannya, sangat luas ilmunya, tenang, berwibawa, seorang hafizh yang kuat, menjadi hakim di Mesir. Di antara karyanya: Syarhul ‘Umdah, al-Imaam fil Ahkaam, al-Iqtiraah fii ‘Uluumil Hadiits, wafat pada tahun 702 H. Lihat Tadzkiiratul Huffaazh (IV/1481), Thabaqatul Huffazh (hal. 516), Syadzaa-ratudz Dzahab (VI/5) dan al-A’laam (VI/283).[17]. Fat-hul Baari (IV/140). Lihat Ihkaamul Ahkaam Syarhu ‘Umdatul Ahkaam (II/18) oleh Ibnu Daqiqil ‘Ied.[18]. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (III/12-44), al-Mundziri berkata dalam at-Targhiib wat-Tarhiib (II/139): “Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang kuat.” Al-Haitsami berkata dalam Majmaa’-uz Zawaa-id (III/150): “Diriwayatkan oleh Ahmad dan di dalamnya ada perawi yang bernama Rafa‘ah, aku tidak tahu ada yang menguatkannya. Dia dan tidak pula ada yang melemahkannya, sedangkan para perawi yang lain adalah shahih.” Diriwayatkan juga oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya, al-Ihsaan bi Tartiibi Shahih Ibni Hibban (V/194). Lafazh terakhir dari hadits, إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتِهِ adalah dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma.

Senin, 30 Juni 2014

MARHABAN YA RAMADHAN

Banyak yang menyambut dengan gembira kedatangan bulan Ramadhan.Ada kesitimewaan apa di bulan suci ini? Yuk mengingatnya kembali.Ustad A Rahim Audah dari Banjarmasin mengatakan selama Ramadan, umat Islam berada dalam salah satu momentum kebaikan besar yang dikaruniakan Allah kepada umat ini, sebagai wujud kemuliaan yang Dia berikan.Allah mengistimewakan ibadah puasa di antara ibadah lain, sebagaimana hadis "Nabi bersabda bahwa Allah berfirman,`Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa.Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan balasanya".Kemuliaan agung Ramadan,Alquran diturunkan. Sejarah manusia tidak pernah mencatat kitab yang diperlakukan secara istimewa, diangungkan, dikaji dan diteliti seperti Alquran yang mendapat perlakuaan seperti itu sejak diturunkan hingga hari ini, baik dihafal, dipahami,dan direnungkan.Sementara para ulama terus berlomba menafsirkan dan menerangkan ayat-ayatnya,menjelaskan keutamaankeutamaannya, menyimpulkan makna-maknanya, menelaah sisi-sisi kemukjizatannya,dan banyak lagi bentuk interaksi dengan Alquran.Membaca Alquran termasuk ibadah yang paling utama, ketaatan yang paling besar,apalagi bila dilakukan pada Ramadan yang penuh berkah.Mengingat pahala kebaikan di Ramadan akan dilipat gandakan. Adanya lailatul qadar, di antara sepuluh malam terakhir, Allah menetapkan satu malam yang lebih baik daripada umur panjang yang dialami seorang yang umurnya mendekati 100 tahun, jika kita tambahkan kepadanya tahun-tahun sebelum balig.Ini adalah malam ketika malaikat turun membawa rahmat Allah, kedamaian, dan keberkahan-Nya, hingga terbit fajar.Alquran mengangungkan malam ini. Ia menisbatkannya kepada Al-Qadar, yaitu kedudukan dan kehormatan. Kedudukan dan kehormatan apakah yang lebih baik dan lebih afdal dibanding dengan seribu bulan? Artinya, ketaatan dan ibadah dalam seribu bulan yang tidak ada lailatul Qadar di dalamnya.Seribu bulan sama dengan 83 tahun 4 bulan. Artinya, satu Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya, Shahiih Muslim, dari Aisyah r. a.. Ia berkata bahwa "Pada sepuluh malam terakhir (di bulan Ramadhan), Nabi SWA Lebih giat (Beribadah) dari sebelum-nya."Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah r.a., "Apabila masuk sepuluh malam terakhir, Nabi SAW mengikat kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya."Maksud "mengikat kain" adalah menjaga jarak dari istri agar lebih total melakukan salat, zikir, menghidupkan malam dengan membaca Alquran, zikir, doa dan mengadu kepada Allah SWT.Mengapa beliau melakukan semua itu? Sebab, nabi betul-betul ingin menggunakan malam-malam yang penuh berkah itu sebaik-baiknya untuk beribadah.Itu merupakan kesempatan emas dan keberuntungan yang sangat besar bagi orang-orang yang dapat bimbingan Allah SWT.untuk meraih kebaikan.Oleh sebab itu, setiap orang mukmin yang bijak tidak mungkin mau melewatkan begitu saja kesempatan emas dan malam yang sangat berharga itu, baik untuk dirinya sendiri maupun keluarganya.Sebab, itu tidak lebih dari beberapa jam yang sangat pendek dan beberapa malam yang sangat terbatas,dengan harapan mudah-mudahan ia meraih setitik anugerah dari Allah SWT, yang memberi kebahagiaan yang abadi di dunia dan di akhirat.