Cinta terbesar dan cinta hakiki bagi orang yang beriman ialah cinta kepada Allah. Sehingga cinta kepada Allah-lah yang seharusnya menjadi motivator terbesar dan tidak terbatas

Senin, 29 April 2013

AJASA



Kesaktian Orang Blambangan Tak Lekang Oleh Zaman
Oleh: Akum asyik
Jika mendengar nama Blambangan pasti bayangan kita akan langsung tertuju pada kota Banyuwangi. Banyuwangi yang merupakan kota yang terletak di ujung Timur pulau Jawa ini memang identik dengan kerajaan Blambangan. Selain sebagai kota gandrung, Banyuwangi juga terkenal sebagai kota Blambangan karena di yakini sebagai pusat pemerintahanan dan pertahanan terakhir dari kerajaan Blambangan. Sebagai basic pertahanan dan kerajaan Hindu terakhir di pulau Jawa, kerajaan Blambangan sempat lama bertahan dan wilayah kekuasaanya terakhir adalah kabupaten Banyuwangi saat ini. Dalam catatan sejarah luas kekuasaan kerajaan Blambangan ternyata tidak hanya sebatas dari kebupaten Banyuwangi saat ini bahkan lebih luas dan mencakup dari kabupaten lain di sekitar Banyuwangi. Kekuasaan Blambangan mencakup seluruh tanah pedalaman ujung timur Jawa (Graaf & Pigeaud, 2003:217). 

          Ihwla munculnya kerajaan Blambangan tidak terlepas pada kerajaan Majapahit ketika Raden Wijaya membagi tanah Jawa menjadi dua bagian, dan wilayah Blambangan berada dalam kawasan Lamajang tigang Juru. Setelah peperangan Pajarakan dimana Majapahit menyerang Lamajang dan mpu Nambi gugur dalam pertempuran itu, nama Blambangan juga ikut tenggelam. Nama Blambangan muncul kembali pada saat era kepemimpinan Menak Dhahali yang mana dala kisah para Wali 9 dikaitkan dengan asal-usul dari Sunan Giri yang ibunya seorang putrid raja Blambangan. Letaknya yang cukup strategis dan Blambangan sebagai daerah penghasil beras selalu menjadikan daerah ini sebagai incaran oleh daerah-daerah yang lain. Sebut saja kerajaan Demak, Pasuruhan, Mataram Islam dan bahkan Bali yang selalu berusaha meluaskan pengaruhnya ke arah barat juga selalu mengincar Blambangan. Usaha Demak dalam menyerang Blambangan mengalami kegagalan, Sultan Trenggono pun yang mempimpin langsung penyerangan ke Blambangan menemui ajalnya di Panarukan. Mataram Islam pun di bawah kekuasaan Sultan Agung tidak sepenuhnya bisa menundukan Blambangan. Serangan pertama pada tahun 1635 tidak sepenuhnya membuat Blambangan tunduk terhadap Mataram pada tahun 1637 Blambangan mampu bangkit dan melakukan perlawanan, hal ini memaksa Sultan Agung untuk mengirimkan pasukannya kembali pada tahun 1639. Pada serangan kedua ini Sultan Agung memberikan tugas bahwa nantinya penguasa Blambangan serta penduduk Blambangan baik laki-laki maupun perempuan harus di boyong ke Mataram, hal itu sengaja dilakukan untuk menghindari perlawanan Blambangan lagi. Kedatangan penduduk boyongan dari Blambangan ini memberi warna tersendiri di ibukota Mataram, bagi orang-orang Mataram penduduk Blambangan disebut sebagai orang –orang pinggir hal ini karena memang letaknya yang berasal dari paling ujung pulau Jawa. Sultan Agung yang terkesan oleh keberanian orang-orang dari Blambangan membentuk satu pasukan khusus yang berasal dari tawanan perang Blambangan dan di beri nama prajurit Blambangan.

         Di sisi lain nasib tragis harus diterima oleh prajurit Blambangan pasalnya mereka sering dijadikan bahan percobaan dalam buatan senjata-senjata baru, konon senjata baru itu bisa dikatakan bagus jika berhasil menusuk mati orang Blambangan. Orang-orang Blambangan pada saat itu menjadi tolak ukur sebuah kesaktian. Tidak hanya pada era Sultan Agung saja, prajurit Blambangan menjadi percobaan senjata tetapi juga berkelanjutan terhadap era sesudah Sultan Agung, akan tetapi orang-orang Blambangan di era iu sudah tidak sesakti para pendahulunya sehingga banyak diantaranya yang meninggal. Tidak hanya kaum lelakinya saja yang mendapat perhatian khusus, wanita-wanita Blambangan juga dipercaya menjadi inang-inang bagi putera dan Puteri raja. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa air susu mereka berwarna kebiru-biruan dan dianggap sangat menyehatkan sekali (Moertono, 1985:158). 
        

Sisa-sisa kesaktian orang-orang Blambangan saat ini masih bisa dilihat dari tanah asalnya sebuat saja Banyuwangi yang sampai detik ini masih terkenal dengan tradisi mantra Osing yang masih disegani banyak orang, bahkan isu santet yang berkembang di Banyuwangi di era 1990an menunjukan bahwa memang orang-orang Blambangan masih mewarisi kesaktian dari nenek moyangnya. Sudah menjadi rahasia umu dikalangan masayrakat ujung timur Jawa bahwa jika sudah mendengar nama Banyuwangi maka stigmanya langsung tertuju pada tradisi mantra-mantra osing yang dimiliki oleh orang-oarang dari Banyuwangi yang merupakan keturunan terakhir dari orang-orang Blambangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar