Cinta terbesar dan cinta hakiki bagi orang yang beriman ialah cinta kepada Allah. Sehingga cinta kepada Allah-lah yang seharusnya menjadi motivator terbesar dan tidak terbatas

Jumat, 29 Maret 2013

HIDUP CUKUP DAN BAHAGIA




Setiap orang mendambakan hidup berbahagia dan berkecukupan baik dari segi harta bendanya dan keuangan. Setiap orang pasti mendambakan semuanya itu oleh sebab itu orang rela banting tulang untuk mencari uang  untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Setiap orang dalam pencapaian kebahagiaan hidup tentu memerlukan pengorbanan baik itu   pengorbanan waktu,tenaga dan pikiran.
Kata berbahagia siapa yang tidak menyenanginya setiap orang bahkan semua orang menginginkan hal itu tapi terkadang ada banyak saudara-saudara kita yang masih tidak bisa merasakan kebahagiaan itu masih banyak saudara-saudara kita yang kelaparan dan tidak ada tempat tinggal bahkan masih ada yang tinggal di bawah kolong jembatan tentu orang-orang seperti ini jauh dari kata berbahagia.

Teman-teman ku sahabat blogger saya akan membahas pada postingan saya kali ini apa sebenarnya hidup berkecukupan dan berbahagia itu,,pasti kalau teman-teman menjawab hidup berbahagia dan berkecukupan itu karena memiliki harta yang berlimpah dan memiliki uang yang banyak,, dan saya tidak menyalahkan teman-teman untuk mengatakan orang-orang seperti itu berbahagia dan berkecukupan,,ya juga kalau menurut saya mereka seperti itu adalah orang-orang yang berbahagia dan berkecukupan,, tetapi saya mengajak teman-teman teman untuk mendalami arti hidup yang berbahagia dan berkecukupan itu,,menurut saya hidup berbahagia dan berkecukupan itu tidak hanya dinilai dari segi materi atau keuangan saja tetapi dari ketenangan hati dan pemikiran dan orang yang berbahagia adalah orang-orang yang tidak akan pernah kuatir akan hidupnya,hidup kita akan berbahagia ketika kita menyandarkan seluruh hidup kita kepada Tuhan dan meminta Tuhan untuk menjaga dan berdaulat di dalam kehidupan kita dan saya yakin jika kita menyandarkan seluruh kehidupan kita kepada Tuhan maka kita akan disebut adalah-orang yang berbahagia,,jadi dapat saya simpulkan kebahagiaan dan kecukupan hidup ini akan kita dapatkan ketika kita ada didalam Tuhan ,,,
 Ingat ,,Jangan menjadi hamba Uang,,karena cinta uang adalah akar dari segala kejahatan maksudnya adalah jangan jadikan uang adalah segala-galanya didalam hidup ini karena selagi kita ada didalam dunia ini tidak akan pernah memberikan rasa yang berkecukupan dan berbahagia dan semua manusia pasti merasakan ,kurang—–,,kurang dan kurang  tetapi ketika kita bersama dengan Tuhan maka kita boleh mengucapkan syukur dan trimakasih kita bahwa hanya didalam Tuhanlah Kebahagiaan dan kecukupan hidup itu,,, Ternyata dunia dan segala isinya tidak bisa memberikan rasa cukup benarkah itu???? pertanyaan ini saya kembalikan kepada Teman-teman,,,semoga artikel ini bermanfaaat,,,

Kamis, 28 Maret 2013

NASIB PETANI SUDAH SAMPAI TARAF SENGSARA DAN GELAP



KOMPAS.com - Nasib petani dan masa depan pertanian Indonesia gelap. Hal ini karena menjadi petani tidak menjamin kehidupan yang makin baik. Para petani sekuat tenaga mendorong anaknya keluar dari sektor pertanian. Di sisi lain tidak ada kebijakan yang benar-benar memihak petani.
Hal itu mengemuka dalam sarasehan satu tahun meninggalnya Prof Dr Ir Sajogyo bertema ”Nasib dan Masa Depan Petani dan Pertanian Indonesia”, Sabtu (16/3/2013), di Bogor, Jawa Barat. Sajogyo merupakan pakar sosiologi pedesaan juga penulis Garis Kemiskinan Sajogyo.
Hadir pada sarasehan itu antara lain pelopor gerakan LSM yang juga pendiri Bina Swadaya Bambang Ismawan, Direktur Institut Ecosoc Right Sri Palupi, Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria Idham Arsyad, pakar agraria Gunawan Wiradi, Staf Khusus Presiden Bidang Penanggulang Kemiskinan HS Dillon, budayawan Mohammad Sobari, sastrawan dan budayawan Ajip Rosidi.
Menurut Bambang, penelitian Ahmad Erani Yustika menunjukkan ada 88 persen petani yang hanya memiliki lahan kurang dari 0,5 hektar.
Penghasilan mereka 80 persen dari luar sektor pertanian, seperti jadi tukang ojek, buruh, tukang batu, dan pedagang kecil. ”Apakah mereka layak disebut petani?” katanya.
Kegelapan nasib dan masa depan pertanian Indonesia semakin nyata ketika petani sekuat tenaga mendorong anaknya agar tidak menjadi petani. Fatalisme. Tantangannya bagaimana memperkuat usaha mereka, sekalipun itu di luar sektor pertanian, agar tidak tambah miskin.
Mereka menguasai 92 persen usaha mikro. Masalahnya di negara tidak ada sistem yang memberdayakan dan mendukung usaha mikro yang menghidupi 240 juta jiwa penduduk Indonesia. ”Salah satu yang penting memperkuat usaha mereka,” katanya.
Palupi mengatakan, fenomena kehidupan petani dan nasib pertaniannya bisa dilihat dari perkembangan desa TKI, atau desa yang memasok pekerja informal ke luar negeri.
Di sebuah desa di Sulawesi Utara, misalnya, terjadi pertumbuhan desa TKI 100 persen dalam tiga tahun. ”Kita bisa melihat dengan jelas dari perkembangan TKI-nya,” ujar Palupi.
Menjadi petani sekarang seperti banyak musuhnya. Pemerintah seperti tidak ikhlas kalau ada orang yang menjadi petani. Di Palangkaraya nyaris tidak ada pertanian pangan selain sawit.
”Zaman Soeharto orang dipaksa dengan segala cara untuk menanam padi. Sekarang orang dipaksa juga dengan segala cara meninggalkan tanaman padi,” tegasnya.
Kini ada petani yang lahannya dicaplok perusahaan sawit. Ada petani yang melawan dengan memasang spanduk dan orasi sendiri di depan rumahnya karena tidak ada jalan lagi melawan. Semua jalan buntu. ”Itu pun anaknya sampai diculik, supaya dia berhenti bicara,” ungkapnya.



  Jakarta - Pemerintah dinilai tak pernah memperhatikan nasib petani di Indonesia yang tahun lalu ditimpa kegagalan panen akibat cuaca ekstrem dan gangguan hama. Nasib petani saat ini sudah sampai taraf sengsara.

Demikian disampaikan oleh Pemilik CV Alamakmur Ayong Winata yang merupakan agen penjual beras kepada detikFinance, Rabu (19/1/2011).

"Petani kita dibiarkan begitu saja oleh pemerintah untuk mengatasi masalah di lapangan. Padahal kita tahu sendiri bahwa petani kita itu pengetahuannya kurang dan dananya juga terbatas. Petani kia bukan hanya miskin, tapi sudah sampai taraf sengsara," imbuhnya.

Ayong meminta agar pemerintah turun ke lapangan untuk membantu petani. Apa yang dibutuhkan oleh petani, misal pupuk atau obat-obatan, harus disiapkan oleh pemerintah. Selain itu juga harus ada program bunga murah dan tanpa pinjaman yang dapat membantu keuangan petani.

Selain itu, Ayong juga mengatakan soal kebijakan pembebasan bea masuk beras yang dilakukan pemerintah untuk mempermudah impor beras guna mengamankan pasokan dalam negeri. Menurut Ayong tidak apa-apa bea masuk dibebaskan, asalkan t‎idak selamanya.

"Pembebasan bea masuk untuk beras hanya berlaku sampai Maret atau hanya sampai petani kita mulai panen. Mulai 1 April bea masuk mulai dikenakan lagi ke beras, yaitu Rp 450/kg, jadi pembebasan bea masuk ini tidak berlaku selamanya," jelas Ayong.

Ayong juga menambahkan bahwa pola seperti ini dinilai cukup bagus mengingat harga beras di dunia juga mahal.

Ia menilai bahwa dengan pembebasan bea masuk ini maka pemerintah telah berusaha untuk menjaga harga beras di dalam negeri supaya tidak melonjak terlalu tinggi. Namun, jika pembebasan bea masuk diberlakukan selamanya, maka akan merugikan petani kita.

Disinggung mengenai konsumsi masyarakat sejak harga beras melambung, Ayong mengatakan jumlah konsumsi masyarakat tidak berkurang.

Namun, pelanggan yang sebelumnya membeli beras kualitas tinggi atau sedang, kini mereka terpaksa membeli beras yang kualitasnya sedang atau rendah.
 

Selasa, 26 Maret 2013

"Jilbab Gaul" Berpakaian Namun Telanjang

JILBAB GAUL
Pernahkah kita berpikir, mengapa begitu banyak wanita muslim yang mengenakan ‘jilbab’, namun berpakaian sangat ‘provokatif,’ misalnya menampakkan lekuk-lekuk kemolekan tubuhnya? Sehingga pada akhirnya, memberi kesan telanjang bagi yang menyaksikannya. Fungsi jilbab yang semestinya diarahkan untuk menutupi aurat, seperti dada dan pinggul, justru malah diabaikan dalam hal ini.
Sejatinya, penutup kepala seperti itu bukanlah jilbab dalam perspektif hijab yang disyariatkan dalam Islam. Orang-orang lebih menyebutnya dengan “kerudung gaul”. Atau diistilahkan Milasari Astuti –dalam artikelnya di sebuah situs Islam— dengan istilah “jilbab cekek”, karena memang benar-benar hanya sebatas nyekek leher.

Maksudnya, seorang perempuan muslim mengenakan kerudung yang menutupi kepala dan rambutnya, namun berpakaian tipis, transparan, atau ketat sehingga menampakkan lekuk tubuhnya. Semisal, kepala dibalut kerudung atau jilbab, namun berbaju atau kaos ketat, bercelana jeans atau legging yangfull pressed body, dan lain sebagainya.



Fenomena kerudung gaul atau jilbab cekek adalah fenomena yang sangat membingungkan bagi setiap muslim atau muslimah yang memahami ajaran Islam dengan benar. Ini mengingat, seorang wanita muslim yang mengenakan kerudung gaul, dalam benaknya dia ingin menutup aurat, namun juga ingin tampil pamer modis dan cantik.

Beberapa gelintir perempuan berkomentar, “Lho, masih mending memakai kerudung atau jilbab gaul, daripada tidak sama sekali?!” Yang lainnya menyatakan, “Ini kan masih belajar untuk menutup aurat.”

Ya, kerudung gaul selalu dianggap lebih baik, daripada tidak menutup aurat sama sekali. Atau juga dianggap sebagai sebuah proses belajar menutup aurat.

Pernyataan-pernyataan seperti ini sekilas tampak benar, namun sejatinya sungguh keliru. Karena seorang muslim diharuskan untuk menjalani setiap perintah syariat secara total atau kaffah.

Alih-alih menggunakan kerudung gaul untuk proses pembelajaran dalam menutup aurat, namun setelah itu terkadang langsung lupa akan aturan syariat yang sebenarnya.

Walaupun kemudian, mereka sadar akan aturan yang sesungguhnya, namun sulit sekali untuk berubah. Alih-alih dipandang sebagai sebuah kebaikan, daripada tidak menutup aurat sama sekali, mereka justru seakan-akan beriman setengah-setengah.
…. kerudung gaul tak ubahnya melecehkan syariat Islam dan sebagai bentuk penyaluran selera pribadinya semata. Mereka mengenakan simbol islami, tapi juga nggak mau meninggalkan mode yang sedang booming ….




Bagi para muslimah yang memahami benar ketentuan jilbab sesuai perintah teks Al-Qur‘an dan hadits, mengenakan kerudung gaul tak ubahnya melecehkan syariat Islam dan sebagai bentuk penyaluran selera pribadinya semata.

“Maksudnya pengen mengenakan simbol islami, tapi juga nggak mau meninggalkan mode yang sedang booming saat ini. Akibatnya, dalam masalah kerudung aja mesti ada aturan main yang dibuatnya sendiri,” tulis salah seorang akhwat dengan id facebook Hilya Jae-hee, ketika mengomentari topik kerudung gaul.

Begitulah, bisa jadi, para wanita muslim berkerudung gaul berniat hendak menutup aurat, namun memiliki paradigma bahwa perempuan harus ‘mensyukuri’ keindahan tubuh yang telah Allah anugerahi, lalu memamerkannya kepada orang lain.

Paradigma ‘bersyukur’ ini semakin meluas di negara-negara yang dikenal ketat menjaga tradisi keagamaan, seperti di Timur-Tengah (Timteng). Lihat saja, kini sudah banyak majalah di negara-negara Timteng yang sampulnya memamerkan pose perempuan yang memperlihatkan perut dan bagian-bagian tubuh lainnya. Di luar negara-negara Timteng lainnya, sudah lebih parah dan berani lagi.

Bahkan lucunya, kini semacam ada pandangan yang menyatakan, bahwa perempuan yang memilih untuk berjilbab panjang dan mengenakan gamis rapih, maka mereka akan kehilangan respek dari kaum lelaki.

Padahal, ditilik dari sudut pandang Islam, perempuan dewasa yang tidak menutup aurat, justru merekalah yang akan kehilangan respek dari setiap muslim dan muslimah, dan sudah dapat dipastikan kehilangan respek dari Allah SWT.



Maraknya fenomena penggunaan kerudung gaul atau jilbab nyekek oleh para remaja putri dan wanita muslim, disebabkan oleh pengetahuan mereka yang minim alias pas-pasan mengenai hijab (jilbab).

Sehingga mereka hanya ikut-ikutan saja, sebab pemahaman keislamannya belum mumpuni. Atau mereka termakan berbagai propaganda musuh-musuh Islam yang ingin menggiring kaum muslimah keluar rumah dalam keadaan ‘telanjang’.

Propaganda-propaganda yang menyimpulkan, bahwa jilbab adalah pakaian adat wanita Arab saja, sampai kepada pelecehan dengan istilah pakaian tradisional. Hingga banyak dari kalangan kaum muslimah termakan olehnya dan meninggalkan jilbab yang syar’i.

Padahal, jilbab yang dikehendaki syariat bermakna milhâfah, berarti baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis, atau kain (kisaa‘) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsaub) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh.

Di dalam kamus Al-Muhith dinyatakan, bahwa jilbab itu laksana sirdab (terowongan) atau sinmar (lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.
….jilbab yang dikehendaki syariat bermakna milhâfah, berarti baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh….

Dalam kamus Ash-Shahhah, Al-Jauhari menyatakan, “Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhafah) yang sering disebut mula’ah (baju kurung).

Makna jilbab seperti inilah yang diinginkan Allah ketika berfirman, Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 59)

Para ulama pakar tafsir pun sepakat, jilbab syar’i bermakna sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka, dan dada. Hal ini membuat seorang muslimah tampak elegan, santun, bermartabat, dan barang tentu berkepribadian islami.



Jika seorang wanita muslimah memakai hijab (jilbab), secara tidak langsung dia berkata kepada semua kaum laki-laki, “Tundukkanlah pandanganmu, aku bukan milikmu, serta kamu juga bukan milikku, tetapi aku hanya milik orang yang dihalalkan Allah bagiku. Aku orang yang merdeka dan tidak terikat dengan siapa pun, dan aku tidak tertarik kepada siapa pun, karena aku jauh lebih tinggi dan terhormat dibanding mereka yang dengan sengaja mengumbar-umbar auratnya supaya dinikmati oleh banyak orang.

Sementara seorang wanita muslim yang mengenakan kerudung gaul atau jilbab nyekek, ber-tabarruj atau pamer aurat dan menampakkan keindahan tubuh di depan kaum laki-laki lain, akan mengundang perhatian laki-laki hidung belang dan serigala berbulu domba.

Secara tidak langsung dia berkata, “Silahkan kalian menikmati keindahan tubuhku dan kecantikan wajahku. Adakah orang yang mau mendekatiku? Adakah orang yang mau memandangiku? Adakah orang yang mau memberi senyuman kepadaku? Atau manakah orang yang berseloroh “Aduhai betapa cantiknya aku?
….Wanita yang mengenakan kerudung gaul itu pamer aurat dan keindahan tubuh di depan kaum laki-laki lain. Mereka mengundang perhatian laki-laki hidung belang dan serigala berbulu domba….


Setiap laki-laki pun sontak berebut menikmati keindahan tubuhnya dan kecantikan wajahnya. Mata mereka seakan-akan menelanjanginya dari atas hingga mata kaki. Sehingga membuat laki-laki terfitnah, maka jadilah dia sasaran empuk laki-laki penggoda dan suka mempermainkan wanita.

Inilah mengapa para pengguna kerudung gaul diibaratkan berpakaian, namun telanjang. Hal ini sebagaimana disinyalir Rasulullah dalam sabda beliau, “Dua golongan dari ahli neraka yang tidak pernah aku lihat: seorang yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang dia memukul orang-orang, dan perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggok-lenggok, kepalanya bagaikan punuk onta yang bergoyang. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan baunya, sekalipun ia bisa didapatkan sejak perjalanan sekian dan sekian. (HR. Muslim)

Ketika ditanya mengenai sabda Nabi: “Berpakaian tapi telanjang”, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjawab, “Yakni wanita-wanita tersebut memakai pakaian, akan tetapi pakaian mereka tidak tertutup rapat (menutup seluruh tubuhnya atau auratnya).

Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun (berpakaian namun telanjang) adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Lihat: Jilbab Al-Mar‘ah Muslimah, 125-126).
….Rasulullah bersabda, bahwa wanita berpakaian tapi telanjang (kasiyatun ‘ariyatun) itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan baunya….

Al-Munawi, dalam Faidh Al-Qadir, mengatakan mengenai makna ‘berpakaian namun telanjang’, “Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis, sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya.

Hal senada juga dikatakan oleh Ibnul Jauzi yang berpendapat, bahwa makna kasiyatun ‘ariyatun ada tiga makna. Pertama, wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang. Kedua, wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang. Ketiga wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur kepada-Nya.

Kesimpulannya, wanita berpakaian telanjang adalah wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya, atau memakai pakaian ketat, sehingga terlihat lekuk tubuhnya, dan wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup.



PAKAIAN ISLAMI BAGI WANITA (TIGA SYARAT HIJAB)

Ada beberapa syarat yang harus dipahami remaja putri dan wanita muslim ketika hendak mengenakan hijab atau jilbab syar’i, sebagaimana dilansir situs Islam 
alsofwah.

PERTAMA, hendaknya menutup seluruh tubuh dan tidak menampakkan anggota tubuh sedikit pun, selain yang dikecualikan karena Allah berfirman, Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak.” (An-Nur: 31)

KEDUA, hendaknya hijab tidak menarik perhatian pandangan laki-laki bukan mahram. Agar hijab tidak memancing pandangan kaum laki-laki, maka harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1. Hendaknya hijab terbuat dari kain yang tebal, tidak menampakkan warna kulit tubuh (transparan).

2. Hendaknya hijab tersebut longgar dan tidak menampakkan bentuk anggota tubuh.

3. Hendaknya hijab tersebut tidak berwarna-warni dan tidak bermotif.

Hijab bukan merupakan pakaian kebanggaan dan kesombongan, karena Rasulullah bersabda, Barangsiapa yang mengenakan pakaian kesombongan (kebanggaan) di dunia, maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan nanti pada Hari Kiamat, kemudian dibakar dengan Neraka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dan hadits ini hasan).





Hendaknya hijab tersebut tidak diberi parfume atau wewangian berdasarkan hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda, Siapa pun wanita yang mengenakan wewangian, lalu melewati segolongan orang agar mereka mencium baunya, maka dia adalah wanita pezina.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa‘i dan At-Tirmidzi, dan hadits ini Hasan).
….Hendaknya pakaian atau hijab yang dikenakan tidak menyerupai pakaian laki-laki atau pakaian kaum wanita kafir….

KETIGA, hendaknya pakaian atau hijab yang dikenakan tidak menyerupai pakaian laki-laki atau pakaian kaum wanita kafir, karena Rasulullah bersabda, sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad, Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari mereka.”
Rasulullah juga mengutuk seorang laki-laki yang mengenakan pakaian wanita dan mengutuk seorang wanita yang mengenakan pakaian laki-laki.
Wallahu ‘Alam.

Senin, 25 Maret 2013

Tanda-tanda Ikhlas seorang Hamba



Buku karangan Abdullah Gymnasiar. Berikut ini cuplikan isi buku tersebut.
NIAT YANG IKHLAS
Setiap hamba Allah memiliki kemampuan dan kemauan dalma beribadah yang berbeda-beda. Sedangkan nilai ibadah seorang hamba di hadapan Allah ditunjukkan dengan ikhlasnya dalam beramal. Tanpa keikhlasan takkan berarti apa-apa amal seorang hamba. Tidak akan ada nilainya di sisi Allah jika tidak ikhlas dalam beramal.
Niat adalah pengikat amal. Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi teramat sangat penting dan akan membuat hidup ini menjadi lebih mudah, indah dan jauh lebih bermakna.
Balasan yang dinikmati oleh hamba Allah yang ikhlas adalah akan memperoleh pahala amal, walaupun amalan tersebut belum dilakukan. Disamping itu akan merasakan ketentraman jiwa, ketenangan batin. Betapa tidak? Karena dia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian, penghargaan atau imbalan. Dipuji atau tidak sama saja.
KONSENTRASIKAN AMALMU HANYA KEPADA ALLAH
Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadi ataupuan imbalan duniawi dari apa yang dapaat dia lakukan. Konsentrasi orang ikhlas hanya satu, yakni bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah.
Berhati-hatilah bagi orang-orang yang ibadahnya temporal, karena bisa jadi perbuatan tsb merupakan tanda-tanda keikhlasan belum sempurna. Yang ukuran nilai ibadahnya adalah duniawi. Misalnya ketika wudlu…ternyata disamping ada seoran gulaa yang cukup terkenal dan disegani, makan wudlu kita pun secara sadar atau tidak tiba-tiba dibagus-baguskan.
Hamba Allah yang ikhlas mampu beribadah secara istiqamah dan terus menerus kontinu. Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang kualitas amalnya dalam kondisi ada atau tidak adanya orang yang memperhatikan adalah sama. Berbeda dengan orang yang kurang ikhlas, ibadahnya justru lebih bagus ketika ada orang lain memperhatikannya.
Seorang pembicara yang tulus tidak harus merekayasa aneka kata-kata agar penuh pesona, tetapi dia usahakn agar setiap kata-kata yang diucapkan benar-benar menjadi kata-kata yang disukai Allah. Bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, dan maknanya. Selebihnya terserah Allah, kalau ikhlas walaupun sederhana kata-kata kita, Allah-lah yang Maha Kuasa menghunjamkannya ke dalam setiap kalbu.
Oleh karena itu tidak perlu terjebak oleh rekayasa-rekayasa. Allah samasekali tidak membutuhkan rekayasa karena Dia Maha Tahu segala lintasan hati, Maha Tahu segalanya! Semakin jernih, semakin bening, dan semakin bersih segala apa yang kita lakukan atau semakain seluruh aktivitas ditujukan semata-mata karena Allah, maka kekuatan Allah lah yang akan menolong segalanya.
IKHLAS, RAHASIA PARA KEKASIH ALLAH
Seorang sahabat dengan mimik serius mengajukan sebuah pertanyaan,“Ya kekasih Allah, bantulah aku mengetahui perihal kebodohanku ini. Kiranya engkau dapat menjelaskan kepadaku, apa yang dimaksud ikhlas itu?“
Nabi SAW, kekasih Allah yang paling mulia bersabda,“Berkaitan dengan ikhlas, aku bertanya kepada Jibril a.s.apakah ikhlas itu?Lalu Jibril berkata,“Aku bertanya kepada Tuhan yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah ikhlas itu sebenarnya?“ Allah SWT yang Mahaluas Pengetahuannya menjawab,“Ikhlas adalah suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.“(H.R Al-Qazwini)
Dari hadits diatas nampaklah bahwa rahasia ikhlas itu diketahui oleh hamba-hamba Allah yang dicintai-Nya. Untuk mengetahui rahasia ikhlas kita tidak lain harus menggali hikmah dari kaum arif, salafus shaalih dan para ulama kekasih Allah.
Antara lain Imam Qusyaery dalam kitabnya Risalatul Qusyairiyaah menyebutkan bahwa ikhlas berarti bermaksud menjadikan Allah sebagi satu-satunya sesembahan. Keikhlasan berarti menyucikan amal-amal perbuatan dari campur tangan sesama makhluk. Dikatakan juga keikhlasan berarti melindungi diri sendiri dari urusan individu manusia.
TANDA-TANDA IKHLAS SEORANG HAMBA
1. Tidak mencari populartias dan tidak menonjolkan diri
2. Tidak rindu pujian dan tidak terkecoh pujian.
Pujian hanyalah sangkaan orang kepada kita, padahal kita sendiri yang tahu keadaan kita yang sebenarnya. Pujian adalah ujian Allah, hampir tidak pernah ada pujian yang sama persis dengan kondisi dan keadaan diri kita yang sebenarnya.
3. Tidak silau dan cinta jabatan
4. Tidak diperbudak imbalan dan balas budi
5. Tidak mudah kecewa.
Seorang hamba Allah yang ikhlas yakin benar bahwa apa yang diniatkan dengan baik lalu terjadi atau tidak yang dia niatkan semuanya pasti telah dilihat dan dinilai oleh Allah SWT. Misal ketika kita menjenguk teman sakit di RS luar kota, ternyata ketika kita sampai yang bersangkutan telah sembuh dan pulang. Tentu sjaa kita tidka harus kecewa karena niat dan perjalan termasuk ongkos dan keletihannya sudah mutlak tercata dan tidak akan disia-siakan Allah.
Seorang hamba yang ikhlas sadar bahwa manusia hanya memiliki kewajiban menyempurnakan niat dan menyempurnakan ikhtiar. Perkara yang terbaik terjadi itu adalah urusan Allah.
Masalah kekecewaan yang wajar adalah jika berhubungan dengan urusan dengan Allah, kecewa ketika ternyata sholatnya tidak khusyu‘, ibadahnya tidak meningkat dsb.nya.
6. Tidak membedakan amal yang besar dan amal yang kecil
7. Tidak fanatis golongan
8. Ridha dan marahnya bukan karena perasaan pribadi
9. Ringan. Lahap dan nikmat dalam beramal
10. Tidak egis karena sellau mementingkan kepentingan bersama.
11. Tidak membeda-bedakan pergaulan.
IKHLASNYA SEORANG MUQARABBIN
Dalam kitab Al Hikan, karya Syeikh Ibnu Atho’ilah tentang kedudukan seorang hamba dalam amal perbuatannya, terdapat dua tingkatan kemuliaan seorang hamba ahli ikhlas, yakni hamba Allah yang abrar dan yang muqarrabin.
Keikhlasan seorang abrar adalah apabila amal perbuatannya telah bersih dari riya‘ baik yang jelas maupun tersamar. Sedangkan tujuan amal perbuatannya selalu hanya pahala yang dijanjikan Allah SWT. Adapun keikhlasan seorang hamba yang muqarrabin adalah ia merasa bahwa semua amal kebaikannya semata-mata karunia Allah kepadanya, sebab Allah yang memberi hidayah dan taufik.
Dengan kata lain, amalan seorang hamba yang abrar dinamakan amalan lillah, yaitu beramal karena Allah. Sedangkan amalan seorang hamba yang muqarrabin dinamakan amalan billah, yaitu beramal dengan bantuan karunia Allah. Amal lillah menghasilkan sekedar memperhatikan hukun dzahir, sedang amal billah menembus ke dalam perasaan kalbu.
Pantaslah seorang ulama ahli hikmah menasihatkan,“Perbaikilah amal perbuatanmu dengan ikhlas, dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan bahwa tidak ada kekuatan sendiri, bahwa semua kejadian itu hanya semata-mata karena bantuan pertolongan Allah saja.“
Tentulah yang memiliki kekuatan dashyat adalah keikhlasan seorang hamba yang muqarrabin yang senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla.